1:21 am - Tuesday February 19, 2019

Soal Doping, Safrin: Tuduhan Itu Tak Benar

237 Viewed admin 0 respond


ATLET  menembak Riau, Safrin Sihombing, kaget disebut menggunakan doping pada PON XIX Jawa Barat (Jabar) 2016. Safrin menjadi satu dari 14 atlet PON dan Peparnas (Pekan Paralimpiade Nasional) yang terindikasi doping sebagaimana dirilis PB PON XIX Jabar, Senin (9/1) lalu.

Peraih 2 emas, 2 perak, dan 2 perunggu pada ajang empat tahunan itu pun menegaskan bahwa hal itu tidak benar. Namun dia belum mengungkap secara lengkap kronologis kejadian.

“Nggak lah, tuduhan itu tidak benar. Kronologisnya masih saya susun. Saya ingat-ingat kembali dan tulis selengkap-lengkapnya. Sehingga nanti ada kejelasan dan tidak ada yang terpotong-potong,” ujarnya.

Dijelaskan Safrin, Rabu (11/1/2017) kronologis itu dikirimkan ke KONI Riau untuk bisa dipublikasikan dan ditindaklanjuti.

“Terkait saya mengalami vertigo dan lainnya, nanti saya tulis lengkap. Jadi nanti keterangannya disampaikan di KONI,” ujarnya.

Dihubungi terpisah, dokter tim PON Riau dr Ruswaldi Munir SpKO juga mengaku masih menyusun kronologis dan obat apa saja yang digunakan Safrin.

“Nanti lengkapnya kami sampaikan lagi,’’ ujarnya.

Ketua KONI Riau, Emrizal Pakis, mengaku masih menunggu pemberitahuan resmi dari PB PON XIX Jawa Barat 2016 dan KONI Pusat. Sebab, pihaknya belum menerima pemberitahuan apa pun. Rabu (11/1), pihaknya menggelar rapat untuk mendalami hal ini.

‘’Saya ingin katakan memang di berbagai media diinformasikan bahwa ada beberapa atlet terkesan doping dari hasil laboratorium. Sebagai Ketua KONI saya tahu betul atlet peraih medali pasti dites urinenya setiap mendapatkan medali,” ujar  Emrizal.

Coreng Nama Riau

Indikasi doping yang diarahkan kepada Safrin disesalkan pembina olahraga di Riau. Kasus ini dinilai telah mencoreng nama Riau di tingkat nasional. Mantan atlet peraih tiga medali emas PON, Sanusi Anwar, sangat menyayangkan peristiwa yang menimpa Safrin. Menurutnya hal tersebut seharusnya tidak terjadi pada seorang atlet yang sudah profesional. Apalagi bagi atlet menembak yang dituntut disiplin tinggi.

Sanusi menduga kasus Safrin bukanlah unsur kesengajaan. Sebab dia sudah atlet kelas dunia yang punya jam terbang. Sanusi menduga ada yang salah dengan makan, minuman, atau obat yang ditelan. Bisa jadi obat flu yang ditelan, sebelumnya memang belum masuk kategori doping, tapi sekarang sudah termasuk.

Sanusi berharap Safrin bisa menjelaskannya pada upaya banding nanti. Sejelas-jelasnya. Berkata apa adanya. Sehingga komite banding bisa mengambil kesimpulan, bersalah atau tidak.

Menurut Sanusi kasus ini sangat merugikan Riau. Mencoreng nama baik Riau.

‘’Ini harus diperjelas betul. Jangan sampai kita (Riau, red) menjadi bahan perbincangan di tingkat nasional. Kami tidak ingin mendengar perkataan, ah Riau juara karena doping,’’ kata Sanusi.

Tak Ubah Klasemen Akhir PON XIX/2016

Terpisah, Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi,  segera merampungkan SK Dewan Disiplin untuk menangani kasus doping 14 atlet di PON XIX dan Peparnas 2016. Rencananya, akhir pekan ini SK tersebut disampaikan pihak Kemenpora.

Gatot S Dewa Broto, Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, menjelaskan, draft SK tersebut sudah ada di mejanya. Hanya, dia belum bisa memastikan siapa saja nama tim panel yang masuk di Dewan Disiplin.

”Selanjutnya malam ini kami ajukan ke Pak Menteri, paling lambat Jumat sudah bisa diumumkan,” terangnya, Selasa (10/1).

Dalam hal ini, Menpora berhak untuk mencoret dan menambah siapa saja sosok yang akan masuk di SK Dewan Disiplin tersebut. Nama-nama yang diusulkan merupakan hasil rapat bersama antara Kemenpora, LADI, BOPI dan BSANK, Senin lalu (9/1). Berikutnya, pekan depan semua tim panel dewan disiplin akan dipanggil untuk pertemuan pertama dan menindaklanjuti panggilan terhadap atlet yang terindikasi doping.

Komposisi tim panel tersebut sepertinya tidak akan berubah banyak. Yakni berasal dari praktisi hukum, praktisi olahraga dan ahli medis. Tugas mereka yakni untuk menggelar hearing dengan para atlet yang bersangkutan. Selain itu, masalah konsekuensi atlet dan kontingen yang menggunakan doping juga akan menjadi bahasan dewan hakim.

Sementara itu, Sekretaris PB PON Ahmad Hadadi, menegaskan, pihaknya tidak akan megubah klasemen medali akhir pada PON 2016 lalu.

”Jadi kami cabut saja hak-haknya, tanpa mengubah klasemen akhir,” terangnya Selasa (10/1).

Sebagaimana diketahui, Jatim dan Jakarta mendulang jumlah medali emas yang sama, yakni, 132 medali pada PON XIX tersebut.

Berdasar temuan hasil analisa The National Dope Testing Laboratory (NDTL) di New Delhi, India, Roni Omero (Jabar) yang mendulang emas di kelas 55 kg diketahui menggunakan doping dengan zat furosemide dan diuretic. Untuk itu, seharusnya medali emas Jakarta bisa bertambah setelah Slamet Junaidi, binaragawan Jakarta berada di peringkat kedua kelas 55 kg.*** 

Filed in

Amril Apresiasi Atlet Bengkalis di PON Jabar

Related posts